Memahami APP 2022 : Peran Gereja Katolik Dalam Proses Pemulihan Masa Pandemi
Tema APP 2022 : Memulihkan Kehidupan (Bumi Sehat, Manusia Sejahtera)
Sejenak memahami APP 2022 dengan tema : Memulihkan Kehidupan (Bumi Sehat, Manusia Sejahtera). Dengan telah dikeluarkannya Tema APP 2022, mari kita sejenak flash back kemasa-masa dimana pertama kali pandemi mewabah di negeri ini khususnya di wilayah paroki kita. Siapa saja yang terdampak dan apa peran gereja dalam proses pemulihan pandemi.
Opini ini merupakan derivasi dari judul artikel Jabin J Deguma (2020), Where is the Church in the Time of Covid-19 Pandemic: Preferring the Poor via G Gutierrez’ Liberation and the Catholic Church’s Social Teaching in the Philippine Setting, di The Journal of social and political studies.
Artikel ini menarasikan posisi penting gereja Katolik pada masa pandemi ini ketika bertolak dari gagasan dan semangat pelayanan kristiani mengenai keberpihakan pada orang miskin, telantar, sakit, dan rentan. Deguma membuat pengandaian kritis, apabila benar semangat pelayanan kristiani ada pada gereja sebagai lembaga sosial religius, pandemi ini merupakan momentum yang tetap untuk mengontekstualisasikannya.
Gagasan dan semangat untuk melayani orang-orang miskin, telantar, sakit, dan rentan pada masa pandemi ini, justru menjadi tantangan sekaligus peluang untuk membuktikan bahwa gereja sebagai lembaga sosial religius tidak saja hadir mewartakan keselamatan yang akan datang (eskatologis), tapi juga berani menawarkan keselamatan ‘sekarang’ dan ‘di sini’ (hic et nunc).
Pengandaian kritis Deguma ini, mendapat penegasannya oleh Aina R (2017) dalam artikel Populorum Progressio’s Vision in an Unequal World: A Theological Ethical Evaluation from the Global South pada Journal of Moral Theology. Aina menyebutkan, teologis etis yang dikumandangkan dalam ensiklik Populorum Progressio (perkembangan bangsa-bangsa) karya Paus Paulus VI, sebenarnya merupakan hasil dari evaluasi terhadap gagasan besar option for the poor.
Dalam konteks pemulihan pandemi, evaluasi ini sangat relevan, dibutuhkan, dan semakin ditantang ketika cukup banyak masyarakat yang tidak diuntungkan, baik secara sosiohigienis, sosiopsikologis, sosiokultural, sosioekonomis, maupun sosiopolitik kebijakan. Kerentanan akan daya tahan tubuh (imunitas), indeks kebahagian yang menurun, relasi sosial yang tidak normal akibat jaga jarak fisik dan sosial, rendahnya produktivitas karena aturan pembatasan sosial, dan kebijakan politik yang tidak berpihak. Hal tersebut merupakan situasi yang tidak cukup menguntungkan sejumlah masyarakat yang miskin, sakit, dan telantar. Padahal, sejumlah masyarakat seperti ini perlu mendapat perhatian lebih banyak dari para pihak, termasuk lembaga gereja.
Pilihan untuk berpihak pada kaum miskin (option for the poor), telantar, dan kelompok rentan bukanlah konsep asing dalam pemikiran sosial Katolik. Paus Yohanes XXIII telah mendeklarasikan bahwa takhta apostolik telah berani keluar untuk membela kepentingan duniawi kaum miskin, telantar, dan kelompok rentan. Sejarah pemikiran sosial, solidaritas, dan komitmen yang kuat dari gereja Katolik terhadap permasalahan sosial kemanusiaan sudah tertoreh jelas dalam sejarah munculnya Ajaran Sosial Gereja (ASG). ASG Rerum Novarum Leo XIII yang menginspirasi lahirnya berbagai ensiklik dari paus-paus berikutnya, selalu membahas topik-topik yang berkaitan dengan dimensi keterpurukan manusia di zaman ini.
Paul VI dalam Populorum Progressio menyerukan langkah-langkah internasional yang terkoordinasi untuk meringankan seluruh negara dari masalah kemiskinan dan ketelantaran. Perasaan kolektif yang apatis dan tidak peduli terhadap sesama yang menderita, telah dikutuk Paul VI sebagai ‘penyakit dunia’. Paul VI mengatakan bahwa dunia sakit dengan penyakit karena kurangnya persaudaraan dan kepeduliaan personal-sosial di antara individu dan masyarakat (Aina, 2017). Untuk itu, harus ada kebangkitan kembali rasa kasih sayang dan empati kristiani terhadap orang miskin, telantar, dan kaum rentan.
Tidak cukup hanya mengakui fakta dan keberadaan kemiskinan yang ada di sekitar lingkungan. Namun, lebih penting ialah bertindak untuk memberi bantuan dan pelayanan sosial yang nyata. Tanggung jawab moral Sebagai lembaga sosial religius, ini menyadarkan kita bahwa cinta kasih Allah dapat hadir melalui serangkaian perbuatan kasih tersebut. Sungguh Allah benar-benar dapat hadir melalui kita semua, melalui apa yang kita lakukan bagi saudara kita yang sangat membutuhkan, bagi mereka yang sakit dan berkesusahan.
Kita percaya pastilah banyak langkah konkret yang telah dilakukan oleh berbagai organisasi Katolik maupun secara perorangan, baik di lingkungan paroki kita maupun di paroki lain yang tidak dikenal secara luas oleh publik. Mereka yang bekerja dalam senyap, jauh dari publikasi; namun memberikan dampak yang juga nyata. Pekerjaan ini dalam senyap bahkan juga dilakukan sejak awal masa pandemi tahun 2020.
Mengutip kata-kata Santa Teresa Kalkuta. : "Tidak semua dari kita dapat melakukan hal-hal besar. Tetapi kita semua dapat melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar". Dan cinta yang besar itu dapatlah kita rasakan dengan nyata pada tindakan konkret yang diambil oleh Gereja dan lembaga-lembaga Katolik dalam mendukung upaya Pemerintah menanggulangi pandemi Covid-19 dan proses pemulihan setelah pandemi.
Semoga Allah selalu memberikan berkat-Nya yang melimpah kepada kita semua (relawan, umat, organisasi dan semua orang yang terus berperan langsung ke masyarakat) dan menganugerahkan kepada bangsa kita kasih setia-Nya dan kesehatan senantiasa.
Tuhan, memberkati kita semua. Amin.!
Daftar Pustaka :
1. Sumber : (Humas Ditjen BImas Katolik)
2. Marianus M Tapung & Marsel R Payong - Relawan Posko ‘Omnia in Caritate’ Keuskupan Ruteng, Flores, NTT
COMMENTS